Minggu, 03 Januari 2016

Sendratari Kolosal Baru Di jogja

Yogyakarta memang tak pernah kehabisan ide untuk berkreasi dan menujukkan kekayaan budaya yang mereka miliki sekaligus untuk mengangkat potensi wisata. Salah satu kabupaten di DIY, yaitu Kulon Progo saat ini sedang dalam proses pengembangan. Banyak objek wisata dan kesenian yang baru di Kulon Progo, salah satunya yaitu SENDRATARI KOLOSAL SUGRIWO-SUBALI. Pada hari Minggu, 22 Maret 2015 Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga bekerjasama dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia (LPM ISI) Yogjakarta mengadakan Pagelaran perdana Sendratari Kolosal Sugriwo Subali di Pendapa Objek Wisata Goa Kiskendo, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Pergelaran Sendratari Kolosal Sugriwo Subali ini dilaksanakan dalam rangka pengelolaan dan penguatan Desa Budaya Jatimulyo sebagai salah satu wujud Jogja Istimewa. Acara di mulai pukul 10.30-12.00 WIB. Dan akan dipentaskan secara berkala.

Sendratari yang disutradarai Gandung Jatmika dari ISI ini berhasil membuat semua orang terkagum. Seperti yang diungkap oleh Bupati Kulon Progo dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) dalam pidatonya “Saya sangat puas dengan pagelaran Sendratari ini hingga sampai tidak bisa membendung air mata”. Beliau juga ingin membangun akses jalan ke Goa Kiskendo agar bus pariwisata bisa langsung menuju lokasi. Dengan begitu maka mempermudah wisatawan asing maupun lokal berkunjung ke Goa Kiskendo.



Terdapat nilai sejarah dibalik tarian ini. Gua Kiskendo memang sudah dikenal dengan cerita Sugriwo Subali. Di kompleks Gua Kiskendo juga terdapat relief-relief yang menggambarkan legenda Sugriwo Subali, termasuk keberadaan Gunung Kelir. Penciptaan dan pementasan Sendratari Sugriwo Subali ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan nilai dan budaya lokal sekaligus mempopulerkan wisata Gua Kiskendo.

Harapannya, tarian ini akan menjadi paket wisata dalam bentuk kemasan nilai budaya lokal yang tinggi dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Karena tarian ini murni mengangkat budaya lokal. Tarian ini juga memiliki makna kemasyarakatan yang diharapakan mampu mengangkat ekonomi kerakyatan. Ada 100 pemain yang dilibatkan dalam tarian ini, dan semuanya diperankan warga Jatimulyo yang sebelumnya adalah penari Angguk. Ini merupakan hal luar biasa karena warga bersatu untuk bersama-sama menggarap sebuah atraksi budaya.

Denah ke Goa Kiskendo


Kisah Subali Sugriwa yang merupakan bagian Epos Ramayana berkembang sebagai legenda di Goa Kiskendo. Kisah tersebut menjadi lakon dalam sendratari kolosal ini. Terdapat kemiripan antara Pegunungan Menoreh dan Goa Kiskendo dengan latar belakang cerita yang digambarkan dalam kisah Sugriwa Subali. Pegunungan Menoreh mirip dengan karakteristik alam yang begunung-gunung dan berbatu-batu dan Goa Kiskendo mirip dengan goa dengan nama sama, Kiskendo, yang sangat unik karena ada lubang menganga di atas goa. Sekilas Kisah Subali Sugriwa ini berkisah tentang kepahlawanan, kesetiaan, dan asmara sehingga sangat menarik untuk diangkat menjadi sebuah kemasan kesenian dalam bentuk sendratari kolosal. Hal inilah yang melatarbelakangi gagasan Bupati Kulon Progo sekaligus dalam upaya pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat sekitar khususnya, seniman seniwati.

Selain menjadi sarana hiburan dan ekspresi seni para seniman/seniwati yang terlibat dalam karya tersebut, pementasan ini juga diharapkan bisa mendorong peningakatan kunjungan wisata di Objek Wisata Goa Kiskendo dan peningkatan ekonomi masyarakat Jatimulyo dan Pegunungan Menoreh dan sekitarnya. Bagi masyarakat yang hendak menonton pentas ini tidak dipungut beaya, selain membayar tarif masuk / retribusi ke Goa Kiskendo Rp. 3.000,- per orang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar