Yogyakarta memang tak pernah kehabisan ide untuk berkreasi dan
menujukkan kekayaan budaya yang mereka miliki sekaligus untuk mengangkat
potensi wisata. Salah satu kabupaten di DIY, yaitu Kulon Progo saat ini sedang dalam proses pengembangan. Banyak objek wisata dan kesenian yang baru di Kulon Progo, salah satunya yaitu SENDRATARI KOLOSAL SUGRIWO-SUBALI. Pada hari Minggu, 22 Maret 2015 Pemerintah Kabupaten Kulon Progo
melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga bekerjasama
dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia (LPM ISI)
Yogjakarta mengadakan Pagelaran perdana Sendratari Kolosal Sugriwo
Subali di Pendapa Objek Wisata Goa Kiskendo, Desa Jatimulyo, Kecamatan
Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Pergelaran Sendratari Kolosal Sugriwo
Subali ini dilaksanakan dalam rangka pengelolaan dan penguatan Desa
Budaya Jatimulyo sebagai salah satu wujud Jogja Istimewa. Acara di mulai
pukul 10.30-12.00 WIB. Dan akan dipentaskan secara berkala.
Sendratari yang disutradarai Gandung Jatmika dari ISI ini berhasil membuat semua orang terkagum. Seperti yang diungkap oleh Bupati Kulon Progo dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) dalam pidatonya “Saya sangat puas dengan pagelaran Sendratari ini hingga sampai tidak bisa membendung air mata”. Beliau juga ingin membangun akses jalan ke Goa Kiskendo agar bus pariwisata bisa langsung menuju lokasi. Dengan begitu maka mempermudah wisatawan asing maupun lokal berkunjung ke Goa Kiskendo.
Terdapat nilai sejarah dibalik tarian ini. Gua Kiskendo memang sudah dikenal dengan cerita Sugriwo Subali. Di kompleks Gua Kiskendo juga terdapat relief-relief yang menggambarkan legenda Sugriwo Subali, termasuk keberadaan Gunung Kelir. Penciptaan dan pementasan Sendratari Sugriwo Subali ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan nilai dan budaya lokal sekaligus mempopulerkan wisata Gua Kiskendo.
Harapannya, tarian ini akan menjadi paket wisata dalam bentuk kemasan nilai budaya lokal yang tinggi dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Karena tarian ini murni mengangkat budaya lokal. Tarian ini juga memiliki makna kemasyarakatan yang diharapakan mampu mengangkat ekonomi kerakyatan. Ada 100 pemain yang dilibatkan dalam tarian ini, dan semuanya diperankan warga Jatimulyo yang sebelumnya adalah penari Angguk. Ini merupakan hal luar biasa karena warga bersatu untuk bersama-sama menggarap sebuah atraksi budaya.
| Denah ke Goa Kiskendo |
Kisah
Subali Sugriwa yang merupakan bagian Epos Ramayana berkembang sebagai legenda
di Goa Kiskendo. Kisah tersebut menjadi lakon dalam sendratari kolosal ini.
Terdapat kemiripan antara Pegunungan Menoreh dan Goa Kiskendo dengan latar
belakang cerita yang digambarkan dalam kisah Sugriwa Subali. Pegunungan Menoreh
mirip dengan karakteristik alam yang begunung-gunung dan berbatu-batu dan Goa
Kiskendo mirip dengan goa dengan nama sama, Kiskendo, yang sangat unik karena
ada lubang menganga di atas goa. Sekilas Kisah Subali Sugriwa ini berkisah
tentang kepahlawanan, kesetiaan, dan asmara sehingga sangat menarik untuk
diangkat menjadi sebuah kemasan kesenian dalam bentuk sendratari kolosal. Hal
inilah yang melatarbelakangi gagasan Bupati Kulon Progo sekaligus dalam upaya
pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat sekitar khususnya, seniman seniwati.
Selain
menjadi sarana hiburan dan ekspresi seni para seniman/seniwati yang terlibat
dalam karya tersebut, pementasan ini juga diharapkan bisa mendorong
peningakatan kunjungan wisata di Objek Wisata Goa Kiskendo dan peningkatan
ekonomi masyarakat Jatimulyo dan Pegunungan Menoreh dan sekitarnya. Bagi
masyarakat yang hendak menonton pentas ini tidak dipungut beaya, selain
membayar tarif masuk / retribusi ke Goa Kiskendo Rp. 3.000,- per orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar